Rute Gowes Latihan
Setelah beberapa kali gowes bareng dengan GRT (gue raja turunan), komunitas sepeda penyuka turunan sekaligus tanjankan, saya menjadi ketagihan untuk nge-gowes. Kalau enggak gowes beberapa waktu badan mulai terasa 4L alias Lemah, Lesu, Lemas dan Lunglai he.he.he. alhasil walaupun sendirian, kalau sudah nagih, maka saya berangkat gowes. Rute gowes sendirian yang cukup lumayan adalah rute Cijayanti-Rainbow Hills-Katulampa. Jarak sekitar 25-30 Km dengan waktu gowes sekitar 2-2,5 jam tanpa foto-foto, atau 3-4 jam lah dengan foto-foto. oh iya elevation gained-nya sekitar 700 meter. untuk lebih jelas dan detail melihat rute gowes nya silahakn klik link berikut :
http://app.strava.com/rides/1813271/embed/b1d1c2593f227186e4da1ab2e8851e734d414431
keep on pedaling,
TD
Gowes Bareng GRT (Gue Raja Turunan) ke Alam Tirta-Ciomas
Malam sebelum tidur tiba-tiba ada sms masuk dari Om Wowo, “ Kang besok kumpul di Wisma Kartika, kita gowes ke Alam Tirta”. “Siap” tak jawab dengan singkat. Besoknya sekitar jam 06.00 wib, saya sudah berada di depan Wisma Kartika, disana sudah ada Mahdi, Pak Sam, Wisnu, Om Kodok, dan Om Wowo. Tak lama kemudian Mbak Fitri datang juga, “ mau ikutan gowes ke alam tirta ah” katanya. Om Wowo bilang “ Ayo aja, kita sekarang track santai kok”. Walau dibilang begitu saya tidak yakin, pasti ada tanjakan edun nantinya.
Arah gowes ke Ciomas cukup ramai dan padat apalagi pagi hari, banyak angkot disana. Kepadatan masih terasa sampai Ciomas, rombongan terpencar, bahkan Om kodok musti dijemput balik oleh Om Wowo karena kebablasan menuju Cipetir, emang biasa nanjak dia mah, jadi cari yang nanjak aja. Setelah melewati perumahan, kita mulai masuk suasana pedesaan. Udara jadi terasa sejuk disini dan rombongan goweser sudah bertambah banyak, ada Om Abas, Om Iman, Ko Aden dan lainnya.
Sayangnya, udara sejuk ini kemudian mulai terganggu lagi, bukan oleh asap knalpot motor dan angkot tetapi paru-paru tiba-tiba terasa sesak dan sulit bernapas karena ada tanjakan “setan”. “ini tanjakan setan” katan Imam. Dalam hati saya, boro-boro orang, setan aja capek lihat tanjakan ini mah. Setelah melewati tanjakan setan ini, kemudian kita diberi hadian berupa turunan dan musti nyebrang sungai pula. Sungai nya tidak dalam, jadi kita hanya perlu gowes saja tidak perlu berenang he.he.he. Tentu di sungai ini kita berpose lagi seperti biasa.
it is not about the bicycle, it is about the cycling.
best, TD
Nggowes bareng GRT (Gue Raja Turunan)
GRT (Gue Raja Turunan) adalah perkumpulan pencinta gowes di Bogor. Anggotanya cukup banyak, “sekitar 60 orang lah” kata Wowo, gegeduk GRT ini. Itu baru anggota terdaftar, banyak lagi anggota yang tidak terdaftar alias hanya sesekali gabung kalau ada kesempatan ngegowes, termasuk saya dalam rombongan ini he.he.he. Dari segi usia, anggota GRT sangat bervariasi dari mulai umur belasan (masih minta uang jajan) sampai lebih enam puluh an (sudah bosen dimintain uang jajan), tetapi ternyata kemampuan melahap tanjakan bukan faktor usia. Buktinya Pak Sam dan Pak Uci yang sudah bosen dimintai uang jajan ama cucunya masih kuat melahap tanjakan. Tanjakan gimana pun mereka tuntaskan tanpa masuk pit stop apalagi Nuntun-Nuntun Sepeda. Yang aneh, walaupun namanya “Gue Raja Turunan” tapi setiap kali gabung ngegowes dengan mereka, selalu track-track yang tidak hanya nanjak tapi sudah masuk kategori MENDAKI, pokoknya bikin dengkul mau copot dan paru-paru serasa mau meledak. Kalau kata Om Abas dan Om Iman “ Mau turun mah, kudu cari yang nanjak dulu Kang”. Pernah ada beberapa kawan baru gabung dengan GRT, alhasil mereka Jack Pot alias muntah-muntah he.he.he. karena tanjakan, dan sisa perjalanan mau tak mau harus ngegowes di atas pick up. Walaupun begitu, Ngegowes dengan GRT sangat asyik, khususnya bagi Pencinta Jalur Tanjakan.
Jalur-jalur gowes yang biasa dilakukan adalah Taman Topi – Cipetir Curug Nangka, Kemudian Vila Duta – Embrio Cipelang, kemudian Taman Topi – ALam Tirta dan yang cukup jauh adalah Kota Bunga (Cimacan) – Sentul lewat Cipancar atau Babakan Madang. Jalur lain yang biasa dijalanin untuk Have Fun juga ada, seperti Track XC sentul, Telaga Warna 1,2,dan 3 serta jalur DH di Cipancar.
Salam Sepedaan…
Keep on Pedaling Guys
Halo Guys..kemarin aku sepedaan. lumayan rute BSI-Katulampa-Dekat Gadog – terus naik ke Gn Geulis Golf resort. turunya ke Cibedug dan Sukaraja. enjoy the ride…
Oh yaa link dibawah adalah peta nya.
http://app.strava.com/rides/1340926/embed/cd0ebf0ae8b996d0073a0a6d2cdcae85594015db
Easy to moderate level: Baranangsiang-Gn Geulis-Pelangi-Jayanti
Salam Sepedaan :
http://app.strava.com/rides/1278142/embed/b091ef656d89e2ae5ffbcf1dab7de928f4651b7c link di atas adalah visualisasi dari sepedaan dengan kawan. Ini merupakan sepedaan pertama saya yang cukup jauh he.he.he. maklum pemula. silahkan di coba yaa. oh yaa ini juga saya share di google maps dengan link : http://maps.google.com/maps/ms?msa=0&msid=207522820274964018628.0004ab145e8f95900d2f8
http://app.strava.com/athletes/107422/activity-summary/654a39f8370cef1e945c0ad90396fa1c9a8a7194
Salam Sepedaan Bro&Sis
Taryono
Rawa Gambut Sumber Penghidupan Komunitas Lokal yang Terkikis Kepentingan Kosumsi Global
Sumber-sumber bacaan mengenai ekosistem rawa gambut saat ini mudah dicari seperti di www.wetlands.org atau www.peat-portal.net . Cukup lengkap. Saya sendiri pertama kali dengar kata “Gambut” pada tahun 1997 waktu kebakaran hutan 1997 di Kalimantan dan Sumatera.
Hutan rawa gambut menurut cerita penduduk lokal merupakan sumber penghidupan mereka, mulai dari cari ikan, jelutung, madu, gemor dan gaharu. Menurut mereka penghasilan dari hasil hutan non-kayu itu cukup saja walau tidak bisa berlebihan dan mereka tetap bisa hidup. Hasil-hasil ini ditampung atau dibeli oleh saudagar-saudagar yang menggunakan perahu keliling kampung sambil barter dengan barang kebutuhan lain seperti garam, beras, kain dan kebutuhan dasar lainnya. Kayu pada jaman itu tidak ada harganya, kalau pun ada yang menebang lebih kepada untuk membuka ladang, kayu nya dibiarkan membusuk.
Tetapi itu cerita dulu, sebelum era pembalakan kayu, perkebunan besar dan tambang datang dan menghancurkan pola produktifitas-distribusi dan kosumsi lokal ini.
Saat ini, menurut Pak Tengku Abas, penduduk Desa Kuala Pandu, Kec. Teluk Meranti , ikan yang tertangkap sudah semakin berkurang, dan ukuran-nya semakin kecil-kecil dan lebih sedikit. Begitu pula dengan Getah Jelutung, sudah semakin jauh ke dalam hutan, semakin ke darat istilah penduduk lokal di Sampit, Kalimatan Tengah. Bahkan untuk mencari gemor perlu menginap beberapa hari di dalam hutan rawa gambut untuk mengumpulkannya.
Menurut beberapa penduduk lokal, sumber penghidupan yang berkelanjutan ini selesai ketika industri kayu mulai masuk, ketika kayu tiba-tiba menjadi ada harganya. Banyak orang asing tiba-tiba berdatangan untuk menebang kayu dan menjualnya. Penjelasan kepada penduduk lokal singkat saja, sekarang kayu laku dijual, orang luar negeri butuh kayu untuk pembangunan. Dua dekade jaman kayu ini berlangsung, cukup untuk merubah tradisi penduduk lokal dari hanya mengumpulkan hasil hutan non kayu sekarang menjadi pembalak kayu. Dari sistem barter berubah jual-beli dengan uang sebagai alatnya. Jika dulu melihat batang kayu yang terlintas memang kayu, atau paling tidak kayu bakar, sekarang jika melihat batang kayu yang terlintas hitungan uang dan berapa kubik.
Sekarang, ceritanya lain lagi. Kayu sudah habis, hutan rawa gambut sudah rusak. Komunitas global sudah tidak lapar kayu lagi (atau mungkin pura-pura tidak lapar kayu lagi). Datang kebutuhan kosumsi dunia yang lain, minyak sawit. Yap, katanya minyak sawit harganya bagus sekali, orang luar negeri banyak butuh minyak sawit. Karena hutan sudah rusak yaa bikin saja perkebunan sawit. Buruh murah banyak, tentu dari penduduk lokal yang sudah lupa atau tidak dapat lagi mencari ikan, jelutung dan gemor. Bahkan kata beberapa orang harga TBS sawit lebih mahal dari getah karet. Ramai-ramai lah penduduk lokal tebang kebun karet untuk tanam sawit.
Entah setelah minyak sawit apalagi kebutuhan kosumsi global yang harus dipenuhi oleh komunitas lokal pinggir hutan ini. Dengar-dengar sekarang penduduk lokal pinggir hutan pun harus turut menjaga hutan rawa gambut-nya, jangan menebang lagi atau membakar karena komunitas global perlu udara yang lebih bersih. Komunitas global menginginkan pohon di hutan rawa gambut tetap tegak berdiri untuk menyerap polusi (karbondioksida) dari udara dan gambut perlu dijaga agar tidak mengeluarkan polusi.
Ada beberapa orang bilang (entah kelepasan, entah sengaja) bahwa komunitas lokal di sekitar hutan rawa gambut kan sedikit dibanding komunitas global jadi yaa memang harus mengalah karena lebih sedikit atau diatur saja kompesasinya kalau protes. Aneh memang.