Skip to content

Rute Gowes Latihan

October 4, 2011

Setelah beberapa kali gowes bareng dengan GRT (gue raja turunan), komunitas sepeda penyuka turunan sekaligus tanjankan, saya menjadi ketagihan untuk nge-gowes. Kalau enggak gowes beberapa waktu badan mulai terasa 4L alias Lemah, Lesu, Lemas dan Lunglai he.he.he. alhasil walaupun sendirian, kalau sudah nagih, maka saya berangkat gowes. Rute gowes sendirian yang cukup lumayan adalah rute Cijayanti-Rainbow Hills-Katulampa. Jarak sekitar 25-30 Km dengan waktu gowes sekitar 2-2,5 jam tanpa foto-foto, atau 3-4 jam lah dengan foto-foto. oh iya elevation gained-nya sekitar 700 meter. untuk lebih jelas dan detail melihat rute gowes nya silahakn klik link berikut :
http://app.strava.com/rides/1813271/embed/b1d1c2593f227186e4da1ab2e8851e734d414431

keep on pedaling,
TD

Advertisements

Gowes Bareng GRT (Gue Raja Turunan) ke Alam Tirta-Ciomas

October 3, 2011

Malam sebelum tidur tiba-tiba ada sms masuk dari Om Wowo, “ Kang besok kumpul di Wisma Kartika, kita gowes ke Alam Tirta”. “Siap” tak jawab dengan singkat. Besoknya sekitar jam 06.00 wib, saya sudah berada di depan Wisma Kartika, disana sudah ada Mahdi, Pak Sam, Wisnu, Om Kodok, dan Om Wowo. Tak lama kemudian Mbak Fitri datang juga, “ mau ikutan gowes ke alam tirta ah” katanya. Om Wowo bilang “ Ayo aja, kita sekarang track santai kok”. Walau dibilang begitu saya tidak yakin, pasti ada tanjakan edun nantinya.

Berpose di depan Wisma Kartika sebelum gowes ke Alam TirtaArah gowes ke Ciomas cukup ramai dan padat apalagi pagi hari, banyak angkot disana. Kepadatan masih terasa sampai Ciomas, rombongan terpencar, bahkan Om kodok musti dijemput balik oleh Om Wowo karena kebablasan menuju Cipetir, emang biasa nanjak dia mah, jadi cari yang nanjak aja. Setelah melewati perumahan, kita mulai masuk suasana pedesaan. Udara jadi terasa sejuk disini dan rombongan goweser sudah bertambah banyak, ada Om Abas, Om Iman, Ko Aden dan lainnya.

Sayangnya, udara sejuk ini kemudian mulai terganggu lagi, bukan oleh asap knalpot motor dan angkot tetapi paru-paru tiba-tiba terasa sesak dan sulit bernapas karena ada tanjakan “setan”. “ini tanjakan setan” katan Imam. Dalam hati saya, boro-boro orang, setan aja capek lihat tanjakan ini mah. Setelah melewati tanjakan setan ini, kemudian kita diberi hadian berupa turunan dan musti nyebrang sungai pula. Sungai nya tidak dalam, jadi kita hanya perlu gowes saja tidak perlu berenang he.he.he. Tentu di sungai ini kita berpose lagi seperti biasa.

Berpose di sungai setalah Alam Tirta

it is not about the bicycle, it is about the cycling.

best, TD

Nggowes bareng GRT (Gue Raja Turunan)

October 2, 2011

GRT (Gue Raja Turunan) adalah perkumpulan pencinta gowes di Bogor. Anggotanya cukup banyak, “sekitar 60 orang lah” kata Wowo, gegeduk GRT ini. Itu baru anggota terdaftar, banyak lagi anggota yang tidak terdaftar alias hanya sesekali gabung kalau ada kesempatan ngegowes, termasuk saya dalam rombongan ini he.he.he. Dari segi usia, anggota GRT sangat bervariasi dari mulai umur belasan (masih minta uang jajan) sampai lebih enam puluh an (sudah bosen dimintain uang jajan), tetapi ternyata kemampuan melahap tanjakan bukan faktor usia. Buktinya Pak Sam dan Pak Uci yang sudah bosen dimintai uang jajan ama cucunya masih kuat melahap tanjakan. Tanjakan gimana pun mereka tuntaskan tanpa masuk pit stop apalagi Nuntun-Nuntun Sepeda.  Yang aneh, walaupun namanya “Gue Raja Turunan” tapi setiap kali gabung ngegowes dengan mereka, selalu track-track yang tidak hanya nanjak tapi sudah masuk kategori MENDAKI, pokoknya bikin dengkul mau copot dan paru-paru serasa mau meledak. Kalau kata Om Abas dan Om Iman “ Mau turun mah, kudu cari yang nanjak dulu Kang”. Pernah ada beberapa kawan baru gabung dengan GRT, alhasil mereka Jack Pot alias muntah-muntah he.he.he. karena tanjakan, dan sisa perjalanan mau tak mau harus ngegowes di atas pick up. Walaupun begitu, Ngegowes dengan GRT sangat asyik, khususnya bagi Pencinta Jalur Tanjakan.

GRT berpose di lokasi pembenihan EMBRIO Cipelang. TD GRT berpose setelah melewati tanjakan pertama di Cimacan.

Jalur-jalur gowes yang biasa dilakukan adalah Taman Topi – Cipetir Curug Nangka, Kemudian Vila Duta – Embrio Cipelang, kemudian Taman Topi – ALam Tirta dan yang cukup jauh adalah Kota Bunga (Cimacan) – Sentul lewat Cipancar atau Babakan Madang. Jalur lain yang biasa dijalanin untuk Have Fun juga ada, seperti Track XC sentul, Telaga Warna 1,2,dan 3 serta jalur DH di Cipancar.

Salam Sepedaan…

Free, Prior and Informed Consent

September 8, 2011

Free, Prior and Informed Consent disingkat FPIC  dan di Indonesia kan secara bebas menjadi Persetujuan Tanpa Paksaan Sebelum Kegiatan atau Tindakan atau Operasi Dijalankan. Prosedur FPIC ini mulai diusulkan ketika banyak terjadi hak-hak penguasaan  dan pengelolaan sebuah wilayah atau lahan dari masyarakat lokal tidak diakui dan dilanggar. Tidak diakui dan dilanggar oleh pihak luar yang datang belakangan demi kepentingan pembangunan (kemajuan), seperti pembukaan tambang, perkebunan, bendungan dan infrastruktur lainnya. Nah, diharapkan dengan adanya gagasan melakukan prosedur FPIC ini hak-hak masyarakat lokal dapat lebih dihargai dan kasus-kasus penyerobotan (land grabbing) tidak terjadi lagi. Dihargai dalam arti bahwa masyarakat lokal juga adalah manusia yang berhak untuk menentukan pilihan hidup terbaik-nya.

Saat ini lembaga-lembaga sertifikasi internasional untuk produk tambang, hutan dan perkebunan, antara lain seperti emas, batubara, kayu/log, HTI, carbon credit  dan sawit  telah mensyaratkan setiap perusahaan untuk melakukan prosedur FPIC ini. Jika perusahaan-perusahaan ini merasa penting dan perlu mendapatkan sertifikat dari lembaga internasional tersebut, mereka harus melakukan prosedur FPIC.  Jelas sekali bahwa kepentingan mereka adalah mendapat pengakuan dari pasar, sehingga produk mereka layak diterima dan dibeli. Tetapi dari sudut pandang aktivis kemanusian dan lingkungan, prosedur FPIC adalah bukan perkara stempel untuk jual-beli produk atau pengakuan pasar saja. Menurut mereka (dugaan saya saja) ini perkara menghargai hak asasi sesama manusia, hak dasar untuk hidup. Jadi ada tuntutan pasar atau tidak, FPIC tetap harus dilakukan. Kalau tidak dilakukan maka perusahaan, pemerintah atau pihak luar lainnya dapat dianggap telah Malpraktek.  Ada peluang untuk dipersalahkan dan dituntut. begitulah kira-kira pikiran saya.

Bagaimana prosedur FPIC dijalankan?. Saya ingin menjelaskan dengan mengambil analogi praktek dokter bedah. Bedah apa saja. mudah-mudahan analogi ini membantu walaupun belum tentu tepat betul. Begini, jika kita, atau keluarga kita ada yang mengalami musibah dan harus dibedah karena penyakit tertentu. Pihak rumah sakit atau Dokter (dapat dianggap pihak luar) tentu harus datang kepada kita  terlebih dahulu untuk meminta persetujuan sebelum melakukan operasi pembedahan. Biasanya disediakan surat pernyataan oleh pihak rumah sakit/dokter untuk kita beri tanda tangan sebagai tanda persetujuan. Nah, disini proses menariknya, sebagian dari kita ada yang langsung memberikan persetujuan. Kasih tanda tangan dan operasi jalan. Andai, ini andaikata  kita sudah mengerti resikonya bahwa kemungkinan gagal dan berhasil  atau bahkan kita mengerti dampak akibat operasi bedah itu, langsung tanda tangan adalah hal yang wajar saja. Masalahnya adalah bagaimana kalau kita tidak tahu resiko yang akan terjadi, berapa kemungkinan berhasil atau gagal? bagaimana dampak setelah dilakukan operasi bedah ini? apakah ada kompesasi atau ganti rugi dari pihak rumah sakit jika ternyata gagal operasinya?. Nah, kita (masyarakat lokal) harus mau dan mampu bertanya minimal sejauh pertanyaan di atas, syukur-syukur lebih dalam lagi pertanyaan-nya. Kalau kita merasa kurang yakin, kita punya hak untuk tidak memberi persetujuan tersebut. Dan Dokter tidak bisa (tida boleh) menjalankan operasi bedah ini. Kita memiliki hak untuk  bertanya ke dokter lain sebelum memberikan persetujuan (dalam konteks masyarakat lokal dengan pihak luar, masyarakat lokal boleh minta bantuan pendapat ahli  yang dipilih sendiri). ini perlu dilakukan karena faktanya memang ada kesenjangan informasi. Asimetris penguasaan informasi terhadap penyakit, kegiatan operasi, resiko dan dampaknya. Setelah kita merasa sangat yakin dengan informasi yang kita miliki kemudian kita bisa datang kepada dokter tersebut untuk memberikan persetujuan, baik dengan syarat atau tanpa syarat. Dengan syarat misalnya dijahit pakai benang ini, jarumnya suntiknya harus bersih dan baru bukan bekas, dibiusnya jangan banyak-banyak dan penawaran lain lagi. Nah, begitu sepakat dengan penawaran dari kita, dokter bisa memulai operasi bedah itu. kita sendiri tenang karena sudah tahu resikonya dan cara antisipasi resiko tersebut.

Mudah-mudahan analogi di atas dapat sedikit membantu bagaimana prosedur FPIC itu dijalankan. Intinya kedua belah pihak dokter – pasien atau pihak luar dan masyarakat lokal harus sama-sama jujur, berdiri sama tinggi duduk sama rendah. equal. begitu kata para pelaku dan pemerhati sosial masyarakat.

Menurut pendapat beberapa pakar hal yang perlu dilakukan pada prosedur FPIC ini sebaiknya :          1)  Masyarakat dapat mengorganisir sendiri atau bisa meminta bantuan pihak ketiga dalam hal ini mungkin LSM atau lembaga lain yang dianggap mampu dan dipercaya oleh masyarakat.                      2) Memilih wakil-wakilnya untuk melakukan prosedur FPIC ini. sebaiknya wakil-wakil ini memang sudah teruji dapat dipercaya dan terbukti tidak pernah mengambil untung atas nama masyarakat lokal.                                                                                                                                                                              3) Para wakil masyarakat ini secara mandiri atau dibantu oleh pihak ketiga dapat mengisi kesenjangan informasi yang dimiliki. Sampai semua jelas, semua pertanyaan dan kekhawatiran dapat terjawab atau setidaknya ada usulan solusi/penawaran bagi pihak luar jika hendak disetujui.                                                                                                                                                                       4) Mengundang pihak luar yang berencana melakukan kegiatan di wilayah-nya untuk berdialog, memaparkan kegiatan-nya secara jelas, tuntas dan transparan.                                                                    5) Berdasarkan informasi tersebut, ambil keputusan apakah disetujui atau tidak. Disetujui dengan persyaratan ini dan itu. Semuanya berpulang kepada perwakilan masyarakat lagi. Ada baiknya perwakilan ini melakukan konsultasi kembali dengan masyarakat lokal yang diwakilinya sebelum melakukan persetujuan dengan pihak luar.

Dengan prosedur di atas diharapkan gagasan dan inisiatif ada pada masyarakat lokal. Tetapi perlu di-ingat bahwa pihak luar tidak pernah menunggu, mereka akan datang kapan saja tanpa pernah terduga. ini fakta lapangan.

Keep on Pedaling Guys

August 24, 2011

Halo Guys..kemarin aku sepedaan. lumayan rute BSI-Katulampa-Dekat Gadog – terus naik ke Gn Geulis Golf resort. turunya ke Cibedug dan Sukaraja. enjoy the ride…
Oh yaa link dibawah adalah peta nya.
http://app.strava.com/rides/1340926/embed/cd0ebf0ae8b996d0073a0a6d2cdcae85594015db

Easy to moderate level: Baranangsiang-Gn Geulis-Pelangi-Jayanti

August 22, 2011

Salam Sepedaan :
http://app.strava.com/rides/1278142/embed/b091ef656d89e2ae5ffbcf1dab7de928f4651b7c      link di atas adalah visualisasi dari sepedaan dengan kawan. Ini merupakan sepedaan pertama saya yang cukup jauh he.he.he. maklum pemula. silahkan di coba yaa. oh yaa ini juga saya share di google maps dengan link : http://maps.google.com/maps/ms?msa=0&msid=207522820274964018628.0004ab145e8f95900d2f8

http://app.strava.com/athletes/107422/activity-summary/654a39f8370cef1e945c0ad90396fa1c9a8a7194

Salam Sepedaan Bro&Sis

Taryono

 

 

Rawa Gambut Sumber Penghidupan Komunitas Lokal yang Terkikis Kepentingan Kosumsi Global

July 1, 2011

Sumber-sumber bacaan mengenai ekosistem rawa gambut saat ini mudah dicari seperti di www.wetlands.org atau www.peat-portal.net  . Cukup lengkap. Saya sendiri pertama kali dengar kata “Gambut” pada tahun 1997 waktu kebakaran hutan 1997 di Kalimantan dan Sumatera.

Hutan rawa gambut menurut cerita penduduk lokal merupakan sumber penghidupan mereka, mulai dari cari ikan, jelutung, madu, gemor dan gaharu. Menurut mereka penghasilan dari hasil hutan non-kayu itu cukup saja walau tidak bisa berlebihan dan mereka tetap bisa hidup. Hasil-hasil ini ditampung atau dibeli oleh saudagar-saudagar yang menggunakan perahu keliling kampung sambil barter dengan barang kebutuhan lain seperti garam, beras, kain dan kebutuhan dasar lainnya. Kayu pada jaman itu tidak ada harganya, kalau pun ada yang menebang lebih kepada untuk membuka ladang, kayu nya dibiarkan membusuk.

Pondok pencari ikan di Sungai Kutub KmaparBapak Tua pencari ikan di Sungai Kutub KamparIkan Toman yang sudah mulai langka dan semakin kecil

Tetapi itu cerita dulu, sebelum era pembalakan kayu, perkebunan besar dan tambang datang dan menghancurkan pola produktifitas-distribusi dan kosumsi lokal ini.

Saat ini, menurut Pak Tengku Abas, penduduk Desa Kuala Pandu, Kec. Teluk Meranti , ikan yang tertangkap sudah semakin berkurang, dan ukuran-nya semakin kecil-kecil dan lebih sedikit. Begitu pula dengan Getah Jelutung, sudah semakin jauh ke dalam hutan, semakin ke  darat istilah penduduk lokal di Sampit, Kalimatan Tengah. Bahkan untuk mencari gemor perlu menginap beberapa hari di dalam hutan rawa gambut untuk mengumpulkannya.

Menurut beberapa penduduk lokal, sumber penghidupan yang berkelanjutan ini selesai ketika industri kayu mulai masuk, ketika kayu tiba-tiba menjadi ada harganya. Banyak orang asing tiba-tiba berdatangan untuk menebang kayu dan menjualnya. Penjelasan kepada penduduk lokal singkat saja, sekarang kayu laku dijual, orang luar negeri butuh kayu untuk pembangunan. Dua dekade jaman kayu ini berlangsung, cukup untuk merubah tradisi penduduk lokal dari hanya mengumpulkan hasil hutan non kayu sekarang menjadi pembalak kayu. Dari sistem barter berubah jual-beli dengan uang sebagai alatnya. Jika dulu melihat batang kayu yang terlintas memang kayu, atau paling tidak kayu bakar, sekarang jika melihat batang kayu yang terlintas hitungan uang dan berapa kubik.

Sekarang, ceritanya lain lagi. Kayu sudah habis, hutan rawa gambut sudah rusak. Komunitas global sudah tidak lapar kayu lagi (atau mungkin pura-pura tidak lapar kayu lagi). Datang kebutuhan kosumsi dunia yang lain, minyak sawit. Yap, katanya minyak sawit harganya bagus sekali, orang luar negeri banyak butuh minyak sawit. Karena hutan sudah rusak yaa bikin saja perkebunan sawit. Buruh murah banyak, tentu dari penduduk lokal yang sudah lupa atau tidak dapat lagi mencari ikan, jelutung dan gemor. Bahkan kata beberapa orang harga TBS sawit lebih mahal dari getah karet. Ramai-ramai lah penduduk lokal tebang kebun karet untuk tanam sawit.

Entah setelah minyak sawit apalagi kebutuhan kosumsi global yang harus dipenuhi oleh komunitas lokal pinggir hutan ini. Dengar-dengar sekarang penduduk lokal pinggir hutan pun harus turut menjaga hutan rawa gambut-nya, jangan menebang lagi atau membakar karena komunitas global perlu udara yang lebih bersih. Komunitas global menginginkan pohon di hutan rawa gambut tetap tegak berdiri untuk menyerap polusi (karbondioksida) dari udara dan gambut perlu dijaga agar tidak mengeluarkan polusi.

Ada beberapa orang bilang (entah kelepasan, entah sengaja) bahwa komunitas lokal di sekitar hutan rawa gambut kan sedikit dibanding komunitas global jadi yaa memang harus mengalah karena lebih sedikit atau diatur saja kompesasinya kalau protes. Aneh memang.