Skip to content

Nyanyi Sunyi Pembatang Kayu

March 4, 2011

Dinamakan Sungai Hanaut karena aliran sungainya melalui Desa Hanaut, Kecamatan Pulau Hanaut, Sampit. Bermuara di Sungai Mentaya tepat berhadapan dengan Pulau Hanaut, sebuah delta di Sungai Mentaya. Ada tiga jalur masuk yang biasa dilakukan warga lokal untuk masuk ke hulu Sungai Hanaut, yaitu Kanal London, Kanal Paring dan Kanal Sedia. Tiga Kanal ini langsung memotong aliran sungai menuju Sungai Mentaya. Sungai Hanaut yang asli sudah jarang digunakan dan sudah menyempit karena sedimentasi.

Gelondongan kayu di hulu sungai hanaut. Dok. Taryono (Starling resources) Gelondongan kayu terantang di hulu sungai hanaut. Dok. Taryono (Starling resources)

Jam 8 pagi kami berangkat menuju Kanal Paring untuk menyusuri Sungai Hanaut. Panjang Kanal Paring sekitar lima kilometer dari ujung Sungai Mentaya ke Ujung Sungai Hanaut. Tiba di aliran sungai hanaut kami disuguhi suasana pagi yang cukup indah. Cipratan air sungai yang berwarna coklat hampir hitam dikombinasi dengan tiupan angin pagi dan jeritan burung mengalahkan teriknya cahaya matahari. Burung-burung rawa beterbangan, mungkin mencari makan atau sekedar berkeliling. Mulai mendekat ke arah hutan, terlihat berjejer rakit-rakit gelondongan kayu. Satu rakit terdiri dari lima sampai enam batang kayu dengan panjang empat meter dan diameter 20-30 cm. Dalam satu rangkaian rakit bisa mencapai 15-20 rakit. Jadi bisa anda perkirakan sendiri berapa jumlah batang gelondongan tersebut. Dan ini tidak hanya satu rangkaian rakit, saya hitung sampai masuk ke dalam hutan ada sekitar 6 rangkaian rakit.

Rakit log kayu. Dok. Taryono (starling resources)

Rakit log kayu. Dok. Taryono (starling resources)

Menjelang sore, rombongan kami hampir tiba di ujung Sungai Hanaut ini. Lebar sungai sudah menyempit, hanya 1-2 meter saja kedalaman hanya sepaha saja kadang malah hanya selutut saja.

Tiba-tiba kawan lokal saya berbisik “ada yang nurunin kayu pak di depan”. Reflek saya perhatikan air sungai,  memang betul tampak keruh banyak bubuk kayu dan serbuk tumbuhan  naik ke atas.

“Mungkin tidak jauh lagi kita akan lihat mereka” sambung kawan lokal saya, betul saja, tikungan berikut terlihat gelondongan kayu malang-melintang di badan sungai. Penuh menutupi jalur sungai. Hampir semuanya kayu Terantang daun lebar. Diameter rata-rata 30 cm dengan panjang 4 meter.

“wah..bisa-bisa orang utan nggak punya rumah lagi Pak” begitu bisikan kawan saya. Memang Terantang daun lebar ini merupakan pohon yang sering/disukai digunakan Orang Utan untuk membuat sarang.

Tak lama berselang muncul dua orang yang sedang bekerja mengatur gelondongan kayu tersebut, tampak ketakutan. Tapi sebelum mereka menghilang kami minta mereka untuk meminggirkan gelondongan ini agar kami bisa lewat. Ternyata gelondongan kayu ini semakin banyak, saya hitung cepat ada sekitar lebih dari 150 batang dengan diameter rata-rata 30 cm dan panjang rata-rata 4 meter.

Dua orang ini bekerja dengan saling berbisik dan terlihat rasa gelisah di wajah mereka, apalagi beberapa kali kita ambil gambar mereka. perlahan perahu yang kami tumpangi bisa lewat dari jebakan gelondongan kayu terantang ini. cukup panjang juga untuk menghindar dari kepungan gelondongan kayu ini.

Kami memutuskan merapat di pondok kayu milik mereka untuk istirahat makan siang. Dua orang dari kami langsung memasak nasi, menggoreng ikan asin serta memasak mie instan, yang lain pergi mandi dan shalat dzuhur.

Saat makan siang, kami lihat dua orang pembatang masih sibuk membereskan kayu-kayu gelondongan itu. “Pak makan dulu pak, sama-sama”. aku teriak memanggil mereka. Setelah beberapa kali dipaksa mereka mau juga bergabung makan siang.

Menurut cerita mereka, kayu ini bukan punya mereka, tetapi punya Bos-nya yang sedang turun ke kampung. Mereka hanya dibayar untuk menurunkan kayu ini. Berdua mereka di kontrak Rp. 600.000 rupiah. Pekerjaan ini sudah berjalan satu minggu lebih. Sejak kemarin malam mereka sudah puasa, ouasa makan dan rokok, kalau air minum masih banyak katanya sambil menunjuk sungai.

Siang ini mereka pulang ke kampung menggunakan sampan yang di dayung. “Malam baru tiba di kampung, agak ringan karena menghilir”. “kami mau ambil beras dulu, besok balik lagi”.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: