Skip to content

Rawa Gambut Sumber Penghidupan Komunitas Lokal yang Terkikis Kepentingan Kosumsi Global

July 1, 2011

Sumber-sumber bacaan mengenai ekosistem rawa gambut saat ini mudah dicari seperti di www.wetlands.org atau www.peat-portal.net  . Cukup lengkap. Saya sendiri pertama kali dengar kata “Gambut” pada tahun 1997 waktu kebakaran hutan 1997 di Kalimantan dan Sumatera.

Hutan rawa gambut menurut cerita penduduk lokal merupakan sumber penghidupan mereka, mulai dari cari ikan, jelutung, madu, gemor dan gaharu. Menurut mereka penghasilan dari hasil hutan non-kayu itu cukup saja walau tidak bisa berlebihan dan mereka tetap bisa hidup. Hasil-hasil ini ditampung atau dibeli oleh saudagar-saudagar yang menggunakan perahu keliling kampung sambil barter dengan barang kebutuhan lain seperti garam, beras, kain dan kebutuhan dasar lainnya. Kayu pada jaman itu tidak ada harganya, kalau pun ada yang menebang lebih kepada untuk membuka ladang, kayu nya dibiarkan membusuk.

Pondok pencari ikan di Sungai Kutub KmaparBapak Tua pencari ikan di Sungai Kutub KamparIkan Toman yang sudah mulai langka dan semakin kecil

Tetapi itu cerita dulu, sebelum era pembalakan kayu, perkebunan besar dan tambang datang dan menghancurkan pola produktifitas-distribusi dan kosumsi lokal ini.

Saat ini, menurut Pak Tengku Abas, penduduk Desa Kuala Pandu, Kec. Teluk Meranti , ikan yang tertangkap sudah semakin berkurang, dan ukuran-nya semakin kecil-kecil dan lebih sedikit. Begitu pula dengan Getah Jelutung, sudah semakin jauh ke dalam hutan, semakin ke  darat istilah penduduk lokal di Sampit, Kalimatan Tengah. Bahkan untuk mencari gemor perlu menginap beberapa hari di dalam hutan rawa gambut untuk mengumpulkannya.

Menurut beberapa penduduk lokal, sumber penghidupan yang berkelanjutan ini selesai ketika industri kayu mulai masuk, ketika kayu tiba-tiba menjadi ada harganya. Banyak orang asing tiba-tiba berdatangan untuk menebang kayu dan menjualnya. Penjelasan kepada penduduk lokal singkat saja, sekarang kayu laku dijual, orang luar negeri butuh kayu untuk pembangunan. Dua dekade jaman kayu ini berlangsung, cukup untuk merubah tradisi penduduk lokal dari hanya mengumpulkan hasil hutan non kayu sekarang menjadi pembalak kayu. Dari sistem barter berubah jual-beli dengan uang sebagai alatnya. Jika dulu melihat batang kayu yang terlintas memang kayu, atau paling tidak kayu bakar, sekarang jika melihat batang kayu yang terlintas hitungan uang dan berapa kubik.

Sekarang, ceritanya lain lagi. Kayu sudah habis, hutan rawa gambut sudah rusak. Komunitas global sudah tidak lapar kayu lagi (atau mungkin pura-pura tidak lapar kayu lagi). Datang kebutuhan kosumsi dunia yang lain, minyak sawit. Yap, katanya minyak sawit harganya bagus sekali, orang luar negeri banyak butuh minyak sawit. Karena hutan sudah rusak yaa bikin saja perkebunan sawit. Buruh murah banyak, tentu dari penduduk lokal yang sudah lupa atau tidak dapat lagi mencari ikan, jelutung dan gemor. Bahkan kata beberapa orang harga TBS sawit lebih mahal dari getah karet. Ramai-ramai lah penduduk lokal tebang kebun karet untuk tanam sawit.

Entah setelah minyak sawit apalagi kebutuhan kosumsi global yang harus dipenuhi oleh komunitas lokal pinggir hutan ini. Dengar-dengar sekarang penduduk lokal pinggir hutan pun harus turut menjaga hutan rawa gambut-nya, jangan menebang lagi atau membakar karena komunitas global perlu udara yang lebih bersih. Komunitas global menginginkan pohon di hutan rawa gambut tetap tegak berdiri untuk menyerap polusi (karbondioksida) dari udara dan gambut perlu dijaga agar tidak mengeluarkan polusi.

Ada beberapa orang bilang (entah kelepasan, entah sengaja) bahwa komunitas lokal di sekitar hutan rawa gambut kan sedikit dibanding komunitas global jadi yaa memang harus mengalah karena lebih sedikit atau diatur saja kompesasinya kalau protes. Aneh memang.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: